Sorot Nuswantoro News

Berita Online dan cetak, "CEPAT, TEPAT, LUGAS DAN BERANI" dari LAMONGAN untuk NUSANTARA


Senin, 26 Juli 2021

Pemda dan DPRD Aru Didesak, Operasikan Kembali PT PBR Benjina


Kepulauan Aru, SNN.com - Pasca  PT Pusaka Benjina Resources (PBR) ditutup, ditambah lagi moruterium mantan menteri Kelautan dan Perikanan Susy Pudjiastuti,  aktifitas perekonomian masyarakat Desa Benjina dan desa - desa di wilayah Kecamatan Aru tengah kabupaten kepulauan Aru, Maluku lumpuh total. 

Roda perekonomian yang dulunya berputar cepat berangsur - angsur melemah hingga lumpuh total Iantaran tingginya angka pengangguran. 

“la. memang benar, pasca PT PBR ditutup, aktifitas  perekonomian masyarakat Aru  khususnya Desa Benjina dan desa-desa di Aru Tengah jelas - jelas lumpuh total sehingga angka pengangguran melonjak naik“ ungkap warga Desa Benjina. Minggu (25 / 2021). 

Mereka yang tak mau dikorankan nama menuturkan, dikala PT PBR masih beroperasi,  pendapatan masyarakat setempat lumayan tinggi. Hasil kebun dan tangkapan nelayan lokal masih bisa dijual ke perusahan dengan cepat.

“Dulu ketika PT PBR masih beroperasi,  kita petani  dan nelayan lokal punya hasil dijual di perusahan  laris manis. Tetapi saat perusahan tutup, pendapatan kami turun drastis hingga akhimya lumpuh total,” tutur mereka dengan nada sedih. 

Terpisah, salah satu tukang kayu yang kesehariannya disapa bung Jon juga mengakui ikut merasakan dampak dari tidak beroperasinya PT PBR. Kata dia, ketika PT PBR masih beroperasi, para tukang kayu, tukang batu sangat gampang mendapat pekerjaan. 

Namun menurutnya, saat perusahan itu ditutup tak ada satupun pembangunan di sana sehingga  para kuli bangunan terpaksa memilih mencari pekerjaan Iain demi mendapatkan sesuap nasi untuk kebutuhan anak dan istri.

“Katong (kita) tukang kayu, tukang batu yang saat itu tinggal di Benjina kalau bilang kerja paling gampang karena banyak bangunan yang dikerjakan kala PT PBR masih beroperasi. Tapi setelah perusahan tutup, katong paling susah dapat kerja. Jadi, mau bagaimana lagi. Katong terpaksa cari kerja lain demi kebutuhan anak, istri dan keluarga,” katanya.

Hal yang sama disampaikan para tukang ojek laut. Mereka juga  mengaku sangat merasakan dampak dari tidak beroperasinya  PT PBR Benjina. 

"Coba bayangkan, kita hitung masyarakat lokal yang bekerja di PT PBR kala itu sebanyak 1000 orang. Kalau kita antar pulang pergi 1000 orang ke  perusahan dengan tarif  Rp. 3000/orang, berati pendapatan kita dalam satu hari cukup lumayan besar.  Tapi ketika perusahan itu ditutup, pendapatan kita turun drastis hingga lumpuh total, dan terpaksa, kendaraan laut yang kita pakai untuk ojekpun kita jual,” ungkap mereka. 

Semua mereka mendesak  pemerintah daerah dan DPRD setempat  selaku perpanjangan tangan rakyat agar secepatnya menghadirkan investor lain untuk mengoperasikan perusahan tersebut sehingga perekonomian rakyat di daerah penghasil ikan terbesar itu bisa kembali nonnal

“Katong samua harap, pemerintah daerah dan DPRD secepatnya cari investor lain untuk buka kembali PT PBR. Katong percaya, kalau PT PBR dibuka, angka pengangguran di daerah ini akan berkurang dan perekonomian rakyat Aru akan kembali normal.” tandas mereka. 

Reporter : Nus Yerusa
Editor      : Wafa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOROT NUSWANTORO NEWS "dari LAMONGAN untuk NUSANTARA"