Sorot Nuswantoro News

Berita Online dan cetak, "CEPAT, TEPAT, LUGAS DAN BERANI" dari LAMONGAN untuk NUSANTARA


Selasa, 25 Agustus 2026

Dorong Kualitas Gizi Siswa, BGN Turun Tangan Evaluasi Program Makan Gratis di SD Negeri 6 Dobo

Kepulauan Aru, SNN.com - Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Kepulauan Aru bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan masalah menu makanan. Tim gabungan mendatangi langsung SD Negeri 6 Dobo pada Senin (24/8/2026).

Pengecekan lapangan ini dilakukan menyusul laporan bahwa dua siswa mengalami gatal-gatal pada bagian mulut dan bibir usai menyantap menu ikan dan sayur dari program MBG yang dibagikan pada Jumat (21/8/2026).

Pertemuan koordinasi dan evaluasi berlangsung di ruang Kepala SD Negeri 6 Dobo. Hadir dalam kesempatan tersebut Koordinator BGN Wilayah Kepulauan Aru Jordan Samloy, perwakilan Satgas Dinas Ketahanan Pangan, pihak SPPG Durjela, serta Plt. Kepala SD Negeri 6 Dobo Yustus Simon Sedubun bersama jajaran dewan guru.

Koordinator BGN Wilayah Kepulauan Aru, Jordan Samloy, menjelaskan pihaknya langsung merespons laporan yang diterima pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIT guna memastikan persoalan dapat diidentifikasi secara transparan.

“Kita ingin cek langsung di lapangan supaya hal ini tidak terulang kembali. Anak yang mengonsumsi makanan harus betul-betul terhindar dari gangguan kesehatan dan keamanan pangan harus menjadi perhatian utama,” ujar Jordan.

Ia menegaskan bahwa BGN sangat terbuka terhadap segala masukan maupun keluhan dari guru dan orang tua siswa. Pihaknya siap melakukan evaluasi besar-besaran untuk menyempurnakan tata kelola program MBG ke depan.

Plt. Kepala SD Negeri 6 Dobo, Yustus Simon Sedubun, S.Th, memastikan bahwa pendataan siswa yang memiliki riwayat alergi makanan telah dilakukan sejak awal dari kelas I hingga kelas VI. Dari total lebih dari 600 siswa, tercatat sekitar 30-an anak memiliki alergi tertentu yang datanya telah dikoordinasikan dengan orang tua dan pengelola SPPG melalui penanda khusus pada tempat makan (ompreng).

Terkait insiden hari Jumat, Sedubun menyebutkan bahwa keluhan baru muncul setelah siswa berada di luar lingkungan sekolah. Pihaknya juga membantah adanya temuan makanan berbau busuk atau basi saat makanan tiba di sekolah. Bahkan, ia sempat mencicipi menu tersebut secara langsung dan memastikan kondisinya layak.

“Kalau terjadi sesuatu setelah makanan dibawa pulang, itu sudah berada di luar jam sekolah. Karena itu kami selalu menyampaikan kepada siswa agar makanan dihabiskan di sekolah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Durjela 02, Sontaria Balsala, memaparkan secara rinci standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan pangan, mulai dari penerimaan bahan baku pukul 18.00–22.00 WIT, penyimpanan protein hewani di freezer, proses produksi dini hari, hingga pemorsian dan distribusi pukul 14.00 WIT khusus untuk sekolah yang masuk siang.

Sontaria juga menjelaskan bahwa penggunaan bahan pangan lokal seperti jantung pisang dan daun singkong telah melalui perhitungan kandungan gizi yang ketat oleh pengawas gizi SPPG serta dilengkapi label informasi nilai gizi dan batas waktu konsumsi pada setiap wadah.

Menutup rangkaian pertemuan tersebut, pihak SPPG menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen untuk meningkatkan kehati-hatian. BGN, pihak sekolah, dan SPPG sepakat memperkuat koordinasi dan pengawasan agar distribusi program MBG di wilayah Dobo (termasuk SD Negeri 6, SD Gwamar, dan SD Negeri 11) tetap aman, berkualitas, dan membawa manfaat optimal bagi kesehatan siswa. (Moses)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOROT NUSWANTORO NEWS "dari LAMONGAN untuk NUSANTARA"