Bojonegoro, SNN.com - Polemik hari ini sabtu malam tanggal 24/10/2026 di alun‑alun Bojonegoro, giat Festival Sandur di semangat Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 yang dibalut dengan berbagai iven acara diantaranya sebuah acara pembagian makanan berlangsung dengan wajah ironis. Rakyat yang seharusnya dimuliakan, justru diperlakukan seolah hanya layak berebut sebungkus nasi. Pemandangan berjubel, berdesak‑desakan, tangan terangkat demi sekadar mendapatkan makanan, menjadi potret betapa rendahnya nilai rakyat di mata penguasa.
Banyak warga masyarakat berpandangan termasuk pengamat yang tidak berkenan disebut mengungkapkan, apakah rakyat hanya binatang yang bisa digiring dengan iming‑iming sebungkus nasi?, Apakah martabat manusia Indonesia sedemikian murah hingga harus dipertontonkan dalam kerumunan yang tak terhormat?
"Rakyat bukan objek tontonan, bukan massa yang bisa diperas harga dirinya demi pencitraan sesaat. Seharusnya ada cara yang lebih *bermartabat, lebih manusiawi,* untuk berbagi rezeki." Kata pengamat.
Rakyat berhak menerima dengan tenang, dengan tertib, dengan penghormatan yang sesuai dengan marwahnya sebagai pemegang amanah tertinggi bangsa. Namun yang terjadi justru sebaliknya: Rakyat dipaksa berdesak ‑ desakan seakan ‑ akan penguasa ingin menunjukkan betapa rakyat masih bisa dikendalikan dengan sebungkus nasi." Imbuhnya.
-Dimana nuranimu, wahai penguasa?
Apakah engkau lupa bahwa rakyatlah yang memberi amanah, rakyatlah yang menjadi sumber legitimasi Janganlah pesta rakyat berubah menjadi pesta penghinaan. Janganlah pembagian makanan berubah menjadi perendahan martabat bangsa. Kelakarnya.
Disisi lain, celetuk warga juga menyampaikan bahwa Wahana hebat dan berkesan, disisi keinginan tuk meraih Makanan dan minuman, hampir mirip dengan bencana perang, bencana kelaparan, bencana gempa dll yg serupa dengan penampakan semalam.
Apa ini kelaparan, apa ini lapar yg TDK bisa di tahan, atau kah ini sebuah Gambar masyarakat yg sebenarnya memang memerlukan bantuan ataukah ini sebuah spontanitas karakter asli masyarakat. Katanya.
-Banyak opini serta persepsi tentang apa yg terjadi semalam.
Kenapa tidak dibagi seperti bulan romadhon saat memberi takjil.
UMKM melingkari alun2 dan orang yg memerlukan makanan dan minuman akan berjalan atau naik motor tuk mendapatkan nya. Minimal tdk berdesakkan serta tdk mengundang tangan jahil pengambil barang orang. Tanyanya warga.
Apakah ini salah atau tidak, pertanyaan pasti kita sendiri yang bisa menilainya. Karena nilai kebijakan seringkali bersebrangan dengan masyarakat. Ungkap warga.
Semoga gambaran semalam bukan gambar asli orang Bojonegoro yang memerlukan asupan nutris. Sehat, sukses dan bertambah umur yang barokah, buat kita semuanya. Harapnya
Tak berbanding jauh dari pandangan beberapa warga, seorang pakar yang bergelut dibidang PKL UMKM Bojonegoro ini, juga turut buka suara dan dalam pandangannya,
Ia mengatakan bahwa ini bukan acara Yang mendidik untuk membangun kemandirian sumber daya masyarakat, akan tetapi hanya sebuah konsep acara yang memberikan hiburan rakyat semata yang tidak memberikan dampak positif terhadap edukasi mental masyarakat yang bermartabat. Semoga pemkab Bojonegoro peka terhadap hal ini. Ucapnya
-Gambaran fungsi dan adanya Organisasi Kemasyarakatan (Ormas)
Ormas ada untuk pemerintah sebagai sayap membangun di tengah kehidupan masyarakat, sebagai kontrol sosial dan kebijakan publik dan menurut sudut pandangnya masyarakat kita (Bojonegoro) tidak ada yang kelaparan, itu hanya sebuah gambaran betapa masih kurangnya kesadaran berpikir hidup yang bermartabat, semoga Bojonegoro ke depan lebih baik. Ungkapnya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar