Probolinggo SNN.com - Pada masa kolonial Belanda, jalan-jalan utama di berbagai kota Indonesia dihiasi deretan pohon asam Jawa yang rindang. Pohon berbatang kokoh dan daun kecil ini sengaja ditanam sebagai peneduh alami untuk jalur transportasi yang saat itu masih mengandalkan kereta kuda dan kendaraan sederhana. Kehadiran mereka menciptakan suasana teduh dan asri di tengah terik matahari tropis, menjadi pemandangan ikonik yang melekat di ingatan masyarakat hingga kini.
Meski disebut asam Jawa, pohon dengan nama latin Tamarindus indica ini sebenarnya berasal dari Afrika Timur. Belanda membawanya ke Nusantara karena kemampuannya beradaptasi di berbagai kondisi tanah dan ketinggian. Pohon ini kuat, tahan lama, dan memiliki tajuk yang tidak terlalu lebat, sehingga cocok untuk menaungi jalan tanpa menghalangi lalu lintas. Daun mudanya yang disebut sinom bahkan dimanfaatkan sebagai bahan jamu tradisional.
Hingga sekarang, pohon asam Jawa masih menjadi bagian penting lanskap kota di Indonesia. Selain sebagai penghijauan, buahnya yang asam menjadi bahan masakan khas seperti sayur asem, sementara kayunya yang keras sering digunakan untuk perabot rumah tangga. Warisan tanaman kolonial ini mengingatkan kita pada sejarah panjang adaptasi dan pemanfaatan alam di tanah air.
Pada masa kolonial Belanda, jalan-jalan utama di berbagai kota Indonesia dihiasi deretan pohon asam Jawa yang rindang. Pohon berbatang kokoh dan daun kecil ini sengaja ditanam sebagai peneduh alami untuk jalur transportasi yang saat itu masih mengandalkan kereta kuda dan kendaraan sederhana. Kehadiran mereka menciptakan suasana teduh dan asri di tengah terik matahari tropis, menjadi pemandangan ikonik yang melekat di ingatan masyarakat hingga kini.
Arifin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar