BOJONEGORO, SNN.com – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-81 tahun 2026, Kodim 0813 Bojonegoro bersama Poliklinik Kesehatan (Polkes) 05.09.14 Bojonegoro menggelar kegiatan bakti kesehatan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bojonegoro, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan tersebut diisi dengan edukasi dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi para pelajar dan guru pendamping. Pelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan serta keterampilan dasar kepada peserta agar mampu memberikan pertolongan awal ketika menghadapi kondisi kedaruratan medis sebelum bantuan tenaga kesehatan tiba.
Pemateri utama, dr. Tio Fikri Pradana, menyampaikan materi secara interaktif dengan menekankan pentingnya tindakan cepat dan tepat ketika menemukan seseorang mengalami henti jantung maupun kondisi tersedak.
Dalam penyampaiannya, dr. Tio mengenalkan tahapan penanganan kedaruratan melalui formula AMAN, CEK, CALL, CPR, dan AED.
“Hal pertama yang harus diperhatikan adalah memastikan keamanan lingkungan, korban, dan penolong. Setelah itu cek kesadaran korban, segera panggil bantuan melalui layanan darurat 119, kemudian lakukan CPR apabila diperlukan, serta gunakan AED jika alat tersebut tersedia,” ujar dr. Tio dalam kegiatan tersebut.
Tahapan AMAN mengajarkan peserta untuk memastikan kondisi lingkungan aman sebelum memberikan pertolongan. Selanjutnya, CEK dilakukan dengan memeriksa kesadaran dan respons korban secara cepat.
Pada tahap CALL, peserta diarahkan segera menghubungi layanan darurat 119 untuk mendapatkan bantuan medis profesional. Sedangkan CPR atau resusitasi jantung paru dilakukan dengan memberikan kompresi dada secara efektif.
Dalam materi tersebut, peserta juga dikenalkan dengan penggunaan Automated External Defibrillator (AED) apabila tersedia di lokasi kejadian.
“Dalam kondisi henti jantung, kecepatan dalam mengenali kondisi korban dan memberikan pertolongan awal sangat penting. Karena itu, pelajar juga perlu memiliki keberanian dan pengetahuan dasar untuk melakukan pertolongan sesuai prosedur,” lanjutnya.
Tak hanya mendapatkan teori, ratusan siswa bersama guru pendamping juga mengikuti praktik secara langsung. Para peserta berlatih melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) menggunakan manekin pelatihan dengan pendampingan tenaga kesehatan.
Peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai penanganan korban yang mengalami tersedak berat, termasuk teknik dorongan perut atau Heimlich maneuver sesuai materi keselamatan yang diberikan dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan bakti kesehatan ini menjadi bagian dari sinergi antara TNI, tenaga kesehatan, dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan pengetahuan serta kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat di lingkungan sekolah.
Melalui pelatihan tersebut, para pelajar dan guru diharapkan tidak hanya memahami teori pertolongan pertama, tetapi juga mampu mengenali kondisi darurat dan memberikan respons awal secara tepat sambil menunggu pertolongan medis profesional.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar