Kepulauan Aru, SNN.com - Penyaluran bantuan sosial berupa sembako dari pemerintah pusat di Desa Algadang, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, sempat menuai sorotan dari warga setempat.
Salah seorang ibu rumah tangga asal Desa Algadang mengungkapkan adanya dugaan pemotongan bantuan yang diterima masyarakat. Menurutnya, jatah yang seharusnya diterima per Kepala Keluarga (KK) adalah 4 karung beras dan 4 plastik minyak goreng. Namun, pada realisasinya, warga mengaku hanya menerima 3 karung beras dan 2 plastik minyak goreng.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Desa Algadang, Mansur Lefuy, memberikan klarifikasi langsung saat ditemui di kediamannya di Dobo, Kamis 16/07/26. Ia membantah keras adanya tindakan pemotongan bantuan sepihak untuk kepentingan pribadi.
Mansur menjelaskan bahwa pengurangan jumlah fisik sembako yang diterima sebagian warga disebabkan oleh musibah yang dialami kapal motor pengangkut logistik di atas meti (surut air laut), yang menyebabkan sebagian muatan tenggelam. Karena adanya beras bantuan yang tenggelam di laut, petugas Bulog sempat menawarkan opsi untuk membeli kembali jatah 1 karung beras dari tiap penerima di Desa Algadang guna menutupi kehilangan tersebut (diganti dalam bentuk uang). Dari total 138 KK penerima manfaat, baru sekitar 40 KK yang telah mengambil bantuan tersebut. Sesuai dengan opsi awal, mereka sementara menerima 3 karung beras dan 2 plastik minyak goreng, dengan asumsi kekurangannya akan diuangkan jika disetujui.
"Informasi pemotongan itu tidak benar. Beras dan minyak goreng yang kurang itu semuanya masih utuh ada di rumah saya. Jadi bagi warga 40 KK yang baru menerima 3 karung beras dan 2 plastik minyak goreng, silakan datang dan ambil sisa kekurangannya (1 karung beras dan 2 plastik minyak goreng). Barang semua lengkap," tegas Mansur Lefuy.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan dan tindak lanjut mengenai konversi uang tersebut dari pihak Bulog.
Menurut Lefuy, bantuan tersebut sebenarnya petugas bulog sudah antar ke Desa Algadang, tetapi karena pelabuhan di desa Algadang dangkal dan motor yang digunakan itu besar, sehingga tidak bisa merapat di pelabuhan Desa Algadang, atas koordinasi bersama, bantuan tersebut akhirnya diturunkan dan disimpan sementara di rumah kediaman Kades di Dobo untuk nantinya diangkut menggunakan motor desa.
Pak Iqbal selaku Pihak Bulog yang dihubungi secara terpisah melalui telephon Whatsapp-nya, membenarkan adanya kendala transportasi akibat kecelakaan laut (motor naik di meti/tabale) saat mengantar bantuan ke beberapa desa, termasuk Desa Irloy, Gardakau, dan Algadang.
Iqbal menegaskan bahwa seluruh kuota bantuan untuk Desa Algadang telah diserahterimakan sepenuhnya kepada Kepala Desa di Dobo. Iqbal selaku pihak Bulog sempat berencana membeli kembali sebagian jatah beras warga untuk menutupi kehilangan akibat kecelakaan laut tersebut menggunakan anggaran beras SPHP. Namun, karena stok beras SPHP di Dobo sangat terbatas, rencana pembelian tersebut resmi dibatalkan. Pihak Bulog mengaku telah menghubungi Kepala Desa Algadang agar sisa bantuan yang sempat tertahan segera dibagikan secara utuh kepada masyarakat penerima manfaat.
"Kemarin rencana mau beli tetapi batal, dan berasnya masih ada di rumah Bapak Kades. Untuk itu, masyarakat bisa kembali ke Bapak Kades untuk mengambil kekurangan bantuan tersebut. Saya sudah telepon Kades untuk memberikan kekurangan itu dan beliau sudah bersedia," jelas Iqbal yang kini telah kembali ke Tual.
Dengan adanya klarifikasi dari kedua belah pihak, dipastikan tidak ada pemotongan hak bantuan sosial. Warga Desa Algadang yang merasa bantuannya belum lengkap diimbau untuk segera berkoordinasi dan mengambil sisa jatah sembako mereka di kediaman Kepala Desa. (Moses)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar