Kepulauan Aru, SNN.com - Kondisi Balai Peternakan Kabupaten Kepulauan Aru kini sangat memprihatinkan. Sejak selesai dibangun beberapa tahun lalu, fasilitas yang memakan anggaran daerah ini bernasib layaknya "proyek mati suri"—menyediakan pakan melimpah, namun tanpa satu ekor pun hewan ternak di dalamnya. Kondisi balai ini dsampaikan kepala Bidang Peternakan DInas Pertanian Kabupaten Kepulauan Aru, Sopia Leunupun, diruang kerjanya, jumat 17/07/26.
Leunupun, mengungkapkan bahwa selama ini aktivitas di balai tersebut hanya sebatas menanami lahan dengan pakan ternak. Langkah ini awalnya diambil sebagai bentuk inisiatif dan kesiapan dinas, dengan harapan ketika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Aru melakukan pengadaan ternak, pakannya sudah tersedia.
"Sayangnya, persediaan pakan sudah siap, tetapi sampai sekarang ternaknya tak kunjung tiba. Namanya balai peternakan, kalau tidak ada ternak ya percuma saja dibangun," ujar Sopia dalam keterangannya.
Anggaran Minim dan Alokasi yang Tebang Pilih
Staf Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kepulauan Aru, Korneles Borola, yang mendampingi Kabid, menambahkan bahwa mandeknya operasional balai peternakan ini dipicu oleh kebijakan penganggaran daerah. Pemkab Aru dinilai lebih memprioritaskan sektor pertanian, sementara untuk sektor peternakan, anggaran hanya mentok pada penanaman pakan.
"Untuk pengadaan fisik ternaknya sendiri, pemerintah daerah menganggap biayanya terlalu berat untuk dianggarkan," ungkap Korneles.
Meskipun tanpa ternak, balai ini sempat memberikan manfaat kecil bagi masyarakat peternak di sekitar Kota Dobo melalui pembagian bibit rumput Odot dan rumput King Grass (kingres). "Fungsi utama balai itu sebenarnya penanaman pakan dan pemeliharaan ternak. Karena ternaknya tidak ada, kebijakan kami dialihkan untuk membagikan stek bibit rumput tersebut kepada masyarakat," lanjut Korneles.
Tragedi 12 Ekor Sapi di Desa Popjetur
Korneles membeberkan bahwa program pengadaan ternak sapi sebenarnya pernah menyentuh Kabupaten Kepulauan Aru, namun seluruhnya dialokasikan ke Balai Peternakan di Desa Popjetur, Kecamatan Aru Selatan, yang diproyeksikan menjadi proyek percontohan.
Nahas, proyek percontohan tersebut gagal total. Sebanyak 12 ekor sapi bantuan yang dipelihara di sana mati seluruhnya. Penyebab kematian belasan sapi tersebut hingga kini masih menjadi misteri dan simpang siur.
"Ada informasi yang menyebut sapi-sapi itu mati karena dibunuh oleh masyarakat dari desa tetangga, tetapi kabar itu simpang siur dan tidak bisa dibuktikan. Yang pasti, ke-12 ekor sapi itu mati semua dan tidak ada sisanya lagi," jelas Korneles.
Akses Jalan Rusak Parah dan Gedung Terbengkalai
Kabid Peternakan, Sopia Leunupun, melanjutkan bahwa saat ini ada tiga unit bangunan di dalam kompleks balai yang kondisinya sangat baik dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, fasilitas tersebut kini terbengkalai dan akses jalannya rusak parah hingga tertutup semak belukar.
"Jalannya sudah tertutup rumput, kemarin kami ke sana cukup menderita. Tetapi itulah tanggung jawab kami," kata Sopia.
Untuk menjaga aset negara tersebut agar tidak semakin rusak, Sopia dan jajarannya berinisiatif melakukan kerja bakti pembersihan balai secara rutin dua kali dalam sebulan, meski di tengah keterbatasan anggaran operasional lapangan.
Di tengah keterbatasan yang ada, Bidang Peternakan Dinas Pertanian Aru tetap aktif turun ke lapangan guna melakukan survei populasi ternak (kambing, ayam, babi) serta memberikan sosialisasi cara beternak yang baik kepada masyarakat.
Pihak dinas kini menaruh harapan besar pada rencana realisasi bantuan sapi untuk 11 Kabupaten/Kota yang sempat dirapatkan sebelumnya. Sopia optimis bantuan tersebut akan turun dan siap dialokasikan ke balai.
Dinas Pertanian Kepulauan Aru juga mendesak Pemkab melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terkait untuk segera memprogramkan pembangunan akses jalan menuju balai serta mengupayakan pengadaan ternak sapi secara mandiri.
"Kalau akses jalan dibangun dan ada ternak sapinya, pengelolaan balai bisa optimal. Hal ini tidak hanya menghidupkan fasilitas yang telantar, tetapi juga berpotensi besar menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Aru," pungkas Sopia. (Moses)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar