Kepulauan Aru, SNN.com - Hubungan kekerabatan dan sejarah antara masyarakat Pulau Luang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), dengan masyarakat Desa Ujir, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, diyakini telah terjalin rapat sejak ratusan tahun lalu.
Kisah persaudaraan lintas kepulauan ini diungkapkan kembali dalam sebuah pertemuan di Dobo, Kepulauan Aru, pada Jumat (24/7/2026). Penuturan tersebut disampaikan oleh Thomas Anmama, warga keturunan Luang di Dobo, bersama pemerhati budaya Aru, Sony Jonler, usai melakukan kunjungan langsung ke Desa Ujir untuk mendokumentasikan jejak-jejak lisan serta peninggalan fisik para leluhur.
Musibah Patah Kemudi dan Lahirnya Julukan 'Luang Bawa Besi'
Ratusan tahun silam, rombongan leluhur dari Pulau Luang melakukan perjalanan maritim menggunakan perahu layar. Namun di tengah samudra, perahu mereka dihantam musibah patah kemudi.
Akibat Musibah tersebut, mereka Menggunakan bambu sebagai alat penokong (pendorong perahu), dan mereka berhasil mendarat di pesisir barat Pulau Ujir untuk beristirahat dan berlindung. Di sana, mereka disambut oleh warga asli pulau Ujir.
Pertemuan tersebut berlanjut pada aksi kolaborasi. Kala itu, masyarakat Ujir tengah diresahkan oleh seekor binatang buas penggangu yang tak kunjung berhasil dibasmi dengan peralatan lokal. Leluhur Luang yang menguasai teknologi logam lantas menawarkan bantuan, menggunakan senjata panah berujung besi.
Setelah binatang tersebut berhasil dilumpuhkan, dagingnya dibagi bersama, sementara taringnya ditanam di tanah Ujir sebagai bukti sejarah perjanjian kedua belah pihak.
"Orang pertama yang membawa besi di Pulau Ujir adalah orang Luang. Dari sanalah lahir istilah 'Luang Bawa Besi'. Keturunannya masih ada hingga saat ini, termasuk warga yang menyandang marga Baubesi dan Hatala," Ungkap Thomas Anmama.
Hilangnya Taring dan Peninggalan yang Tersisa
Mengenai peninggalan taring binatang tersebut, Anmama menyebutkan bahwa benda bernilai historis atau sejarah itu pernah diteliti oleh arkeolog/peneliti asal Amerika Serikat, Dr. Joss Whittaker, sekitar tahun 2014 atau 2015.
Lantaran mayoritas masyarakat Ujir saat ini memeluk agama Islam dan memandang taring tersebut berasal dari hewan yang haram, pihak keluarga saat itu mengizinkan sang peneliti membawanya ke AS.
Meski sangat disayangkan hilangnya salah satu bukti fisik sejarah tersebut, Anmama menegaskan bahwa jejak-jejak keberadaan leluhur Luang di Ujir masih sangat kentara di lapangan, di antaranya:
-Sisa Bangkai Perahu: Dikenal dalam bahasa lokal setempat/Babar sebagai kulibia atau rauna.
-Rumpun Bambu Historical: Bambu bekas tokong perahu yang ditanam di tempat peristirahatan dan tumbuh hingga kini.
-Sumur Tua: Digali oleh leluhur Luang untuk pemenuhan air bersih selama berada di Pulau Ujir.
-Situs Dapur & Tempat Mencuci: Berada di wilayah pesisir tempat awal mereka mendarat.
Wilan Dabata dan Jakalar: Bukti Linguistik & Antropologis
Pemerhati budaya Aru, Sony Jonler, menilai bahwa kisah kekerabatan Luang dan Ujir bukanlah cerita rekaan atau karangan belaka, melainkan data atau fakta antropologis atau ilmu yang mempelajari hidup dalam memori kolektif masyarakat.
Sony Jonler menyoroti keberadaan dua istilah lokal yang mengakar kuat di Ujir yaitu:
1.Wilan Dabata adalah Istilah lokal untuk menandai peristiwa patahnya kemudi perahu leluhur Luang.
2.Jakalar adalah Nama kawasan pesisir (sekitar 1 km dari Desa Ujir) tempat leluhur Luang berteduh dan menjaga layar agar perahu tidak terbalik.
"Kalau istilahnya hanya 'patah kemudi' dalam bahasa Indonesia, itu bisa saja dibuat belakangan. Tapi ketika ada idiom lokal seperti Wilan Dabata dan nama tempat seperti Jakalar, ini membuktikan bahwa peristiwa tersebut telah menyatu dalam struktur pengetahuan lisan masyarakat secara turun-temurun," terang Jonler.
Ia menambahkan bahwa masyarakat Aru sejak dulu merupakan masyarakat multikultural yang memiliki jalinan relasi maritim yang sangat panjang dengan daerah sekitar, termasuk Kei, Tanimbar, hingga Maluku Barat Daya, termasuk wilayah-wilayah lain sekitarnya.
Dorongan Pelestarian dan Wacana Pembangunan Monumen
Melihat pentingnya nilai sejarah maritim ini, Thomas Anmama dan Sony Jonler mendorong Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, untuk segera melakukan dokumentasi resmi dan langkah pelestarian.
Salah satu gagasan yang diusulkan adalah pembangunan monumen peringatan di situs persinggahan leluhur Luang di Ujir. Monumen tersebut diharapkan menjadi penanda sejarah sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda, peneliti, dan budayawan di masa depan.
"Sejarah Maluku tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi hidup di dalam nama tempat, nama marga, sumur tua, rumpun bambu, dan ingatan kolektif warganya. Nilai-nilai ini harus terus dihidupkan agar tidak tergerus oleh zaman," pungkas Anmama.
Catatan Redaksi / Naskah Terbuka:
Tulisan sejarah ini masih terbuka untuk penyempurnaan dan pengayaan data. Bagi basudara dari Luang, Ujir, maupun para pemerhati sejarah di mana pun berada yang memiliki informasi tambahan terkait narasi sejarah ini, sangat diharapkan masukannya demi melengkapi dokumen sejarah kebudayaan daerah. (Moses)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar