Sorot Nuswantoro News

Berita Online dan cetak, "CEPAT, TEPAT, LUGAS DAN BERANI" dari LAMONGAN untuk NUSANTARA




Senin, 11 Oktober 2021

Pertani HKTI Jatim Sisiri Area Persawahan Yang Tanamannya Mati Diduga Akibat Limbah Di Probolinggo


Probolinggo, SNN.com - Aktifis perempuan yang tergabung dalam organisasi Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Pertani HKTI) Jatim turun ke sawah di Paiton guna meninjau area persawahan yang rusak diduga akibat terpapar limbah tambak udang yang berlokasi di dusun Mandaran desa Pondok Kelor kecamatan Paiton kabupaten Probolinggo, Minggu, 10/10/2021.

Selepas dari Pondok Kelor, rombongan tim bergerak menuju desa Karanganyar, tepatnya di dusun Karang Anom yang beberapa waktu lalu pemukiman warga setempat terendam air laut.

Pada kesempatan itu, Ketua Pertani HKTI Jatim, Dr Lia Istifhama didampingi wakilnya Veronika beserta 3 orang pengurus, dan belasan orang yang turut mengawal, diantaranya Tjandra Koordinator LBH Cinta Keadilan Semesta (CKS) wilayah Jatim-7 selaku pendamping hukum warga terdampak yang sawahnya diduga rusak akibat terpapar limbah dari tambak.
Nampak juga turut serta siang itu, Sulis Riyanto Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Korma Nusantara yang juga sebagai Ketua Umum Ormas Korma Nusantara.

Adapun kasus tercemarnya sawah oleh adanya diduga limbah itu pula menjadi atensi LSM Generasi Masyarakat Adil Sejahtera (GMAS) DPW Jatim melalui Divisi Advokasi LSM GMAS Jatim.

Pula turut mengatensi, Ketua Gerakan Advokat dan Aktifis Se-Jatim (GAAS), Latif mengatakan,
"Semua tidak terlepas dari kepedulian para pengusaha tambak terhadap lingkungan dan alam semesta karena jelas dalam kitab suci disebutkan kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia.  Maka kita sebagai ummat manusia harus sadar nikmat yang diberikan oleh TUHAN harus dijaga karena manusia sebagai penjaga muka bumi.  Jangan hanya untuk kepentingan pribadi yang berdampak pada rusaknya lingkungan dan merugikan banyak orang, terutama alam semesta untuk masa depan anak cucu kita.", tutur pria asal Sampang dengan panggilan akrab Pak Ustad. (10/10/2021)


Dalam giat tinjauan itu, Pertani HKTI Jatim juga melibatkan tim dari Bio Tani, yang berperan mengatasi permasalahan pertanian dengan cara memperbaiki tanaman yang rusak maupun mengembalikan unsur tanah agar bisa kembali produktif.

Pantauan media, tim Pertani HKTI Jatim sejumlah 16 orang itu turun ke lahan pertanian milik petani warga desa Pondok Kelor dan desa Karanganyar kecamatan Paiton kabupaten Probolinggo.

Tim yang dikomandoi Dr Lia Istifhama itu bergerak mengamati seluruh bidang sawah yang rusak dan saluran pembuangan diduga limbah yang mencemari area persawahan di dusun Mandaran desa Pondok Kelor kecamatan Paiton kabupaten Probolinggo.

Siang itu, nampak warga sangat antusias.
Di tengah teriknya sorotan Matahari, warga setempat mengiringi langkah Ning Lia, sapaan akrab Dr Lia Istifhama. Sambil berjalan, merekapun mengadu kepada Ning Lia, warga terdampak itu berkeluh kesah mencurahkan kesedihan yang selama ini dipendamnya.

Adapun sebagian besar dari mereka terpaksa diam lantaran takut untuk bersuara. Sebagian kecilnya merasa putus asa karena suara mereka yang terabaikan.

Hari ini (Minggu, 10/10/2021), ratapan petani itu didengar. Besar harapan mereka meminta keadilan.

Kepada media, Ketua Pertani HKTI Jatim mengatakan, "Hari ini, kami menemui banyak petani terdampak dari diduga limbah yang dikeluarkan dari perusahaan di sekitar mereka, yang tepatnya di desa Pondok Kelor dan desa Karanganyar.", ungkapnya.

Lia menerangkan, "Di sini memang kami menjumpai fakta, real yang terjadi di sini.  Dan itu akan menjadi sebuah referensi dari kami, apa yang bisa kita lakukan setelahnya, apakah kita bisa menyampaikan kepada pihak-pihak lain, ataukah bagaimana.  Minimal, fakta itu sudah ada.", tegasnya.

Lebih lanjut, Ning Lia menyampaikan bahwa dampaknya memang sangat merugikan, yaitu gagal panen. Menurut warga yang mengadu, ada dari mereka yang merugi selama 2 tahun, dan masa merugi mereka yang terpanjang yaitu hingga 20 tahun. 

"Pengorbanan mereka (petani) turun ke sawah setiap hari berpanas-panasan, sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, pengorbanan waktu namun sia-sia.  Kasihan kan mereka.", ucapnya 

"Kita akan coba lakukan dengan prosedural.  Semoga pihak-pihak yang berkaitan dengan ini bisa terbuka matanya." tegas Dr.Lia

Reporter : Sholeh
Editor      : Wafa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOROT NUSWANTORO NEWS "dari LAMONGAN untuk NUSANTARA"