Sorot Nuswantoro News

Berita Online dan cetak, "CEPAT, TEPAT, LUGAS DAN BERANI" dari LAMONGAN untuk NUSANTARA




Jumat, 06 Agustus 2021

DPRD Kubar Pertanyakan Mana Yang Lebih Penting Bangun Gedung Baru Untuk Mesin PCR Atau Beli Mesin PCR?


Kutai Barat SNN.com - Buntut Raker (Rapat Kerja) Covid-19 bersama Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Harapan Insan Sendawar (HIS) Kutai Barat (Kubar) di kantor DPRD Kubar Rabu 28 Juli lalu meninggalkan sejumlah tandatanya wakil rakyat di parlemen.

Pasalnya. Ditengah kondisi dan situasi akibat pandemi saat ini yang serba membingungkan masyarakat koq malah pihak RSUD HIS meminta agar dibangun gedung untuk alat Polymerase Chain Reaction (PCR). Tak tanggung-tanggung nilai proyek gedung yang diusulkan pihak RS HIS mencapai miliaran rupiah.

Rasa penasaran anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat (Kubar) kemudian lakukan inspeksi mendadak (sidak) di Klinik Permata Husada di Kelurahan Melak Ulu Kecamatan Melak Sabtu (06/08/2021).

Ketua DPRD Kubar Ridwai memimpin langsung Sidak didampingi anggota dewan Yahya Marthan (Gerindra), Sopiansyah (PAN) dan Zainuddin Tayib (Golkar) untuk mengecek secara langsung apa dan bagaimana sebenarnya ruangan yang digunakan  oleh dokter Waluyo pemilik Klinik Permata Husada swasta di Melak itu untuk menampung mesin PCR bekerja.

"Penjelasan kepala Dinkes dr Ritawati dan direktur RS HIS dr Akbar saat raker itu bahwa RS HIS tidak memiliki gedung untuk menaruh mesin PCR. Menurut keduanya minimal ruangan PCR setidaknya berukuran 6x8 meter dan itulah kendalanya sampai hari ini pihak RS HIS belum bisa membeli mesin PCR,"ungkap Ridwai.

Masih kata ketua DPRD. Atas inisiatif inilah kami berkunjung ke Klinik Permata Husada Melak untuk melihat. Sebab cuma di Klinik Permata Husada ini saja yang memiliki mesin PCR.
Setelah kita melihat ruangan Klinik Permata Husada milik dr Waluyo dimana mesin PCR itu ditempatkan dan ternyata ruangan itu hanya 5x4,5 meter dan itupun terbagi 3 bagian jadi sekitar 2x4 meter saja dalam 1 ruangan,"kata Ridwai.

"Setelah kita meninjau ruang di klinik Permata Husada milik dr Waluyo ternyata untuk tempat mesin PCR ini tidak harus permanen seperti yang dijelaskan oleh direktur RS HIS dr Akbar dan Kadis Kesehatan dr Ritawati waktu raker kemarin yang menelan biaya 1,5 hingga 2 miliyar untuk membangun gedung baru. Jadi apa yang dikatakan dr Akbar dan dr Ritawati itu penjelasannya kurang dapat kita percaya dan itu berdasarkan bukti tinjauan kami pada hari ini,"ujar ketua DPRD Kubar.


Pro dan kontra soal usulan dr Akbar direktur RS HIS tentang rencana dibangunnya gedung baru untuk mesin PCR, wartawan SNN.Com bertanya kepada ketua DPRD Ridwai yang mana lebih urgensi antara membangun gedung baru atau memilih Rumah Singgah milik Pemda itu untuk digunakan tempat mesin PCR?

Ketua DPRD menjelaskan berdasarkan penjelasan dr Waluyo kalau kita menggunakan gedung yang lain di luar lingkup RS HIS ada satu persoalan yaitu ijin Instalasi Pengolahan Air Limbah atau Ipal. Jadi kalau kita gunakan ruangan yang di RS HIS itu sendiri sudah ada ijin Ipal nya,"jelas Ridwai.

Mengingat di RS HIS sendiri ada beberapa bangunan atau ruangan yang bisa kita pakai untuk menempatkan mesin PCR itu kalau kita fungsikan maksimal dan itu sangat memungkinkan.

Ditanya. Kenapa pemerintah daerah sendiri tidak mampu membeli mesin PCR sedangkan pihak swasta seperti Klinik Permata Husada milik dr Waluyo malah mampu membelinya?
"Yang menjadi pertanyaan kami wakil rakyat ini kenapa pihak RS HIS seolah-olah tidak mampu atau tidak ada dana untuk membeli mesin PCR. Ternyata bukan tidak mampu tapi memang tidak ada kemauan coba kalau memang ditegaskan harus beli kan dana kita di Kubar ini cukup.

Seperti dana dari Dinas kesehatan dari Rumah Sakit Harapan Insan Sendawar (HIS) apa lagi diambil dari dana Anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) itu sangat tersedia untuk membeli dalam keadaan darurat seperti yang kita alami sekarang ini,"jelas Ridwai.

Dan alat atau mesin PCR ini tidak terlalu mahal harganya kan kita sudah lihat mesin PCR ini kecil saja bahkan seperti mesin fotocopy saja,"sambungnya.

"Jadi kesimpulannya setelah melakukan peninjauan di klinik Permata Husada ini kami akan rapat dulu apakah kami memanggil kembali pihak manajemen RS HIS dan dinas kesehatan atau kami berkunjung kesana untuk mendorong mereka sama-sama memikirkan gedung atau ruangan mana kita pakai sementara yang penting masih di dalam. lingkungan RS HIS itu sendiri.


Bahkan dr Waluyo bisa menyulap dari asalnya ruang penanganan bersalin menjadi ruangan tempat mesin PCR mengingat situasi covid-19 yang sangat luar biasa ini jadi kami akan datang ke RS HIS dan meminta agar segera membeli mesin PCR itu.

Sebelumnya di jelaskan ketua DPRD Ridwai saat raker covid-19 Minggu lalu bahwa mesin ini tidak terlalu mahal dan mendapat kata sepakat dari semua anggota dewan yang hadir saat itu lebih mengutamakan membeli mesin PCR ketimbang harus membangun gedung baru yang menelan biaya miliaran rupiah.
Hal ini dilakukan guna percepatan penanganan dan pelayanan kepada masyarakat Kutai Barat dalam mendeteksi kemungkinan-kemungkinan penularan virus Corona.

Reporter : Johansyah
Editor      : Wafa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOROT NUSWANTORO NEWS "dari LAMONGAN untuk NUSANTARA"