Sorot Nuswantoro News

Berita Online dan cetak, "CEPAT, TEPAT, LUGAS DAN BERANI" dari LAMONGAN untuk NUSANTARA




Jumat, 16 April 2021

Korp Baret Merah Genap Berusia 69 Tahun dan Mengenal Lebih Dekat Pendiri KOMANDO PASUKAN KHUSUS


Yogyakarta, SNN.com,- Korp Baret Merah (KOPASSUS) Wilayah Korem 072/Pamungkas dipimpin Kasi lntel Korem 072/Pamungkas, melaksanakan ziarah di Makam Almarhum Letkol Purn  Muchammad ldjon Djanbi (MID) dalam rangka Peringati HUT KOPASSUS yang ke 69 di Pemakaman umum Pakuncen Yogyakarta, Jum'at 16/04/2021

Ziarah rombongan tersebut diawali dengan Penghormatan umum dilanjutkan tabur bunga, pengarahan khusus dari pesan Danjen Kopassus yang disampaikan oleh 
Kasi lntel Korem 072/Pamungkas, Kolonel lnf. Agsha Erlangga kepada Personil Korp Baret Merah, dan mendoakan semoga Almarhum Letkol purn muchammad ldjon Djanbi khusnul khotimah, diakhiri dengan berdoa yang dipimpin oleh bapak Mayor Purn Maseh diakhiri dengan Foto bersama.

Ditempat terpisah Putra Almarhum Muchammad ldjon Djanbi yang ke 2, Heru Janbi secara singkat  menjelaskan, bahwa, almarhum (ayah saya) dulu adalah Pelatih utama sekaligus Komandan pertama pasukan Elite TNI-AD yang kini bernama KOPASSUS (Pada awalnya Kopassus masih bernama Kesko TT). Idjon Djanbi merupakan nama yang amat keramat di kalangan pasukan Baret Merah Indonesia.

Almarhum adalah mantan Prajurit Komando Belanda  yang pertama kali mengasah mental dan fisik anggota TNI-AD terpilih untuk kemudian dilatih menjadi prajurit tangguh berkualifikasi komando. Panglima Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT) Kolonel AE Kawilarang yang meminta Mochammad Idjon Djanbi untuk membentuk pasukan komando. Pasukan kecil yang tangguh, tangkas dan mampu bertempur di segala medan. 


Saat itu, di jawa barat terdapat gangguan gerombolan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang bergerilya dan menakutkan tentu saja menjadi masalah besar bagi Panglima III/Siliwangi. Panglima Siliwangi ketika itu, Kolonel Alexander Evert (AE) Kawilarang, teringat idenya bersama almarhum Brigjen Anumerta Slamet Riyadi untuk mendirikan pasukan khusus. Katanya.

Bapak saya adalah bekas Perwira Pasukan Khusus Belanda yang sudah menjadi Warga Negara Indonesia. Almarhum adalah  seorang bule bernama Mochammad Idjon Djanbi, yang biasa di panggil ldjon.

Sekitar 1952, AE Kawilarang memanggil laki-laki yang usianya 5 tahun lebih tua darinya itu. Laki-laki bule tersebut datang dengan pakaian khaki drill ala tentara pula. Kawilarang menjelaskan niatnya untuk membentuk satu Kompi Pasukan Komando. Kawilarang meminta Idjon mau untuk menjadi pelatih. Permintaan itu disambut dengan jawaban “iya”. Idjon pun aktif menjadi TNI dengan menyandang pangkat Mayor. Katanya.

Ketika diminta memimpin dan membentuk Kesatuan Komando tahun 1952, bukan perkara yang mudah. Tak ada sumber daya manusia, peralatan dan dukungan dana. Tetapi pelan-pelan Idjon Djanbi mampu mewujudkan sebuah pasukan Komando yang handal dengan cucuran KERINGAT dan tetesan DARAH.

Ternyata tak semua suka kepadanya. Walau sudah masuk Islam, menjadi Warga Negara Indonesia dan menjadi perwira TNI, tetap saja Idjon dianggap sebagai orang Belanda. Dulunya, Idjon Djanbi bernama asli Rokus Bernardus Visser. Mantan komandan sekolah terjun payung Belanda, pernah di Latih Pasukan khusus Inggris SAS dan terlibat dalam operasi Market Garden yakni operasi pasukan Sekutu dalam membebaskan Belanda dari pasukan Nazi Jerman dalam perang Dunia ke dua. Jelasnya

Almarhum adalah anggota pasukan Elite Belanda yang akhirnya bersimpati pada perjuangan Indonesia. Visser keluar dari tentara Belanda, menjadi WNI, Masuk Islam, Menikah dgn gadis sunda dan mengganti namanya menjadi Mochammad Idjon Djanbi, aktifitasnya menjadi petani bunga di Lembang.

Periode 1950an, sentimen itu memang tinggi. Apalagi Idjon Djanbi diangkat menjadi Mayor (Pangkat yang cukup tinggi kala itu). Desas-desus Idjon Djanbi adalah mata-mata Belanda kerap dihembuskan sejumlah Perwira yang iri. Inisial MID, Mochammad Idjon Djanbi sering dikaitkan dengan Militaire Inlichtingendienst, dinas intelijen militer Belanda. Tambahnya.

Saat itu sejumlah pemimpin militer setuju melucuti kewenangan Idjon Djanbi, termasuk mengurangi porsi dalam melatih Kopassus. Namun, rencana tersebut tak dapat terlaksana karena belum ada calon yang kuat untuk menggantikan Idjon Djanbi sebagai Komandan Kopasus.

Pada 25 Juli 1955, KKAD berganti nama menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD. Setahun kemudian, kekuatan RPKAD meningkat berkali lipat. RPKAD menerima 126 siswa sebagai tambahan kekuatan, saat itulah kader senior RPKAD mengusulkan agar komandan diganti untuk meredam situasi, Para petinggi militer di Jakarta setuju dengan usulan tersebut.

Singkat cerita, pada tahun 1956, setelah hal ini dilaporkan ke pimpinan TNI, untuk meredam situasi, Mayor Mochammad Idjon Djanbi ditarik oleh Kolonel Sukanda Bratamenggala menjadi staf Inspektorat Infanteri, dan posisinya digantikan oleh Wakilnya Mayor RE Djailani.

Idjon Djanbi ditawari jabatan yang jauh dari pelatihan komando, namun ia memilih untuk pensiun, lalu bekerja di bidang perkebunan dalam status anggota TNI yg dikaryakan.

Pada tahun 1969 pada saat ulang tahun RPKAD, Mayor Inf. Mochammad Idjon Djanbi diberi kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel. Almarhum bapak saya  wafat pada tanggal 1 April 1977 pada usia 62 tahun dan di makamkan di TPU Pracimalaya, Kuncen, Yogyakarta. "Pungkas Heru.

Reporter : Asih
Editor      : Mas Pay

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOROT NUSWANTORO NEWS "dari LAMONGAN untuk NUSANTARA"